1. Pra Sejarah Desa.
Desa Poopo bukanlah sebagaimana yang ada sekarang, mulanya terbentang luas hutan belukar di perbukitan dan lembah yang datar. Dari perbukitan ini mengalirlah beberapa sungai yaitu:
- Sungai Ranoiapo di sebelah timur.
- Sungai Pangian di sebelah selatan.
- Sungai Sigitoy di sebelah barat.
- Sungai Tumicakal di sebelah utara.
Diabad 16 daerah ini merupakan tempat berburu dan mencari hasil hutan oleh suku Minahasa dan Bolaang Mongondow, kedua suku ini dengan bebas melakukan kedua aktivitas tersebut. Lama-kelamaan terjadi perselisihan karena masing-masing mulai menyatakan batas-batasnya. Menurut pemimpin suku (raja) Mongondow batas daerah mereka adalah sungai Ranoiapo sehingga mereka menanam bulu berduri yang disebut pa’kayu sebagai tanda batas di sepanjang sungai. Hal ini tidak disetujui oleh suku Minahasa sehingga terjadi perselisihan yang berkepanjangan, perselisihan ini ujung-ujungnya mengakibatkan peperangan diantara kedua pihak. Suku Minahasa dipimpin oleh Tonaas mengusir dan memukul mundur suku Mongondow sampai ke sungai Poigar namun begitu masih ada diantara suku ini yang tertinggal yang kemudian bersembunyi di hutan-hutan dan membuat tempat tinggal di atas, di antara pohon-pohon kayu yang besar. Peperangan berakhir ketika seorang putera raja Mongondow melirik dan ingin mengawini puteri Minahasa sehingga timbul musyawarah antara kedua belah pihak. Hasilnya adalah daerah yang dipersengketakan dijadikan syarat untuk meminang puteri Minahasa untuk seterusnya menjadi wilayah suku Minahasa. Bukti kehadiran orang-orang Mongondow di tempat ini ada pada nama sungai dan nama perkebunan
yang sampai sekarang tetap digunakan, seperti sungai Pangian, Sigitoy dan perkebunan Koyondom, Molibatang, Mopolo.
Setelah berakhirnya peperangan melalui mufakat kedua suku ini maka keamanan di selatan Minahasa mulai dirasakan sehingga keinginan mengembara mulai tumbuh lagi termasuk diantaranya beberapa petani dari daerah tengah Minahasa. Salah satunya bernama Menajang, seorang yang kuat, yang cakap dan berani ingin ke selatan untuk bertani karena mendengar banyak tanah subur yang masih merupakan hutan. Menajang dengan beberapa teman dengan perlengkapan yang sudah dipersiapkan mulai melakukan perjalanan pengembaraan ke arah selatan. Pada suatu waktu saat mereka bangun pagi dilihat di kejauhan ada satu pemukiman baru (sekarang Pontak), mereka kemudian berjalan menuju ke lokasi tersebut dan sesampai di pemukiman itu mereka meminta izin menginap untuk beberapa hari. Selain menginap, mereka juga berbincang dengan tonaas di tempat tersebut dan mereka mendapat petunjuk untuk merombak hutan di seberang sungai Tumicakal. Setelah itu Menajang dan teman-teman kembali ke daerah mereka di Minahasa Tengah untuk mengabarkan tentang daerah baru dan mengajak lebih banyak teman dan keluarga pergi ke daerah baru tersebut. Alhasil ajakan itu diterima dan disambut sehingga terbentuk satu kelompok terdiri dari keluarga Menajang, Keluarga Purukan, Keluarga Kawatu, serta tonaas Tololiu, tonaas Kumajas, tonaas Ratu, tonaas Assa dan tonaas Talumepa yang siap berangkat. Sebelum berangkat Menajang menikah dengan seorang puteri bernama Reget dan dalam persiapan mereka menghubungi seorang walian bernama Tigau. Walian diangkat biasanya dari seorang wanita yang cerdas, berperasaan halus sehingga boleh mengatahui tanda-tanda yang baik atau buruk melalui bunyi burung, berani menghadapi malapetaka, tahan nafsu dan menjadi sumber segala peraturan kesopanan dan adat istiadat di kampung. Sebelum rencana keberangkatan, Walian Tigau mengasingkan diri di bawah sebatang pohon besar di tengah malam untuk berdoa mencari jawab atas rencana tersebut. Melalui suara burung ia mendapatkan tanda dan jawaban bahwa perjalanan yang nantinya dilakukan akan benar-benar sukses, jawaban ini disampaikannya kepada Menajang.
Pagi-pagi benar setelah menyelesaikan perbekalan secukupnya, berangkatlah Menajang dan isterinya bersama kelompoknya dan Walian Tigau. Didorong oleh tekad dan keyakinan bahwa perjalanan mereka akan sukses maka tak ada kesulitan yang
dirasakan di jalan walaupun harus melewati jurang, lembah, bukit, gunung dan sungai serta tantangan lain selama perjalanan. Akhirnya mereka tiba di salah satu tempat yang pernah didatangi Menajang dan teman-teman sebelumnya, yaitu Pontak. Saat beberapa lama mereka tinggal di tempat ini ada niat untuk melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi sungai Tumicakal ke tempat seperti yang ditunjukkan oleh tonaas di Pontak.
2. Berdirinya Perkampungan Poopo.
Di dataran antara sungai Tumicakal dan sungai Pangian mereka menemukan tempat yang sangat cocok untuk dijadikan lahan bertani. Sebelum merombak hutan seperti biasanya mereka meminta petunjuk melalui Walian dengan mendengarkan suara burung dan ternyata suara burung memberi petunjuk bahwa tempat tersebut memang baik untuk dijadikan ladang pertanian. Mereka bekerja merombak hutan dari pagi sampai sore hari kemudian kembali ke Pontak, begitu seterusnya sampai saat mereka bercocok tanam berupa padi, jagung, dan lain-lain. Karena masih bolak-balik ke Pontak, mereka membuat sabua atau tempat berteduh di kebun tempat bercocok tanam. Sabua ini dibuat setinggi 2 meter dengan menggunakan tangga yang bisa dilepas atau diangkat pada malam hari selain sebagai tempat berteduh, sabua ini dapat melindungi mereka dari ancaman binatang buas apalagi pada waktu malam. Oleh mereka sabua ini sebut “popoh”/ “poopo” dalam bahasa Tountemboan. Pada saat-saat tertentu mereka tinggal berhari-hari di sabua menjaga tanaman dari serangan binatang namun pada saat-saat tertentu pula mereka kembali ke Pontak memenuhi kebutuhan lainnya. Karena agak lama baru kembali ke Pontak sehingga setiap ketemu orang selalu menerima pertanyaan “kemana kamu selama ini” maka selalu dijawab “kami tinggal di popoh”. Lama kelamaan kata “popoh” menjadi sebuah kebiasaaan untuk menyebut tempat perkebunan/pertanian yang diolah Menajang, Reget dan Walian Tigau dan kelompoknya. Sebutan tersebut berlanjut ketika tempat ini kelak menjadi sebuah perkampungan.
Seterusnya mereka mulai menetap dan menjadikannya sebagai perkampungan untuk mereka dan keturunannya namun sebelumnya Walian Tigau berdoa kepada penguasa alam menanyakan apakah mereka boleh membuka perkampungan di tempat ini, dari suara burung mereka mendapatkan jawabannya. Kemudian mereka melaksanakan ritual peletakan batu.dengan memilih 3 buah batu agak besar berbentuk lonjong kira-kira panjangnya 50 cm yang diletakan masing-masing seorang satu batu secara berdekatan dalam bentuk segitiga (seperti 3 batu dodika) dan 9 anak batu di sekelilingnya. Di bawah masing-masing batu diletakkan persembahan untuk 3 Opo Empung yaitu 3 Allah yang maha kuasa yang berbeda-beda fungsi sesuai keyakinan mereka waktu itu, yaitu :
- batu pertama, syukur untuk Allah Pencipta
- batu kedua, syukur untuk Allah Pemelihara
- batu ketiga, syukur untuk Allah Penghukum
Ritual diakhiri dengan kata-kata Walian sebagai sumpah: “Barangsiapa yang datang di tempat ini dengan maksud jahat maka kejahatan akan menimpa dirinya tetapi yang datang di tempat ini dengan maksud baik, dia akan terlindung dari yang jahat dan dapat hidup sejahtera”. Sampai sekarang ketiga batu tersebut masih bisa dilihat di halaman/kintal Kel.Ratu-Sondakh (Sampel). Ketiga batu itu sering disebut “batu aitani ‘im pedoengan” (disebut juga “batu tumotowa”).
Sesudah itu berdatanganlah rombongan petani dari Minahasa bagian tengah dan dari desa Pontak sebab rupanya di “popoh” ini tanahnya sangat subur karena di kelilingi sungai-sungai dan di sebelah barat terdapat pegunungan yang diliputi hutan lebat yang juga menjadi salah satu sumber kebutuhan hidup. Setelah menjadi sebuah perkampungan, semua urusan pemerintahan tetap berada di Pontak karena tempat ini masih termasuk kepolisian Pontak.
3. Lesung Batu.
Di pegunungan sebelah timur gunung Payung ada beberapa lesung batu yang kedalaman lubangnya berkisar 30 cm sehingga tempat ini dikenal dengan perkebunan lesung dan ada lagi 2 lesung yang lebih kecil terletak di tepian sungai Pangian serta di daerah Tandoyang berada dalam telaga. Diduga lesung-lesung batu ini adalah peninggalan orang Spanyol dalam hal ini rombongan “bekas awak kapal dari armada Ferdinan Magelhaes, pengeliling dunia pertama (1521-1522) yang ditawan Portugis di Ternate kemudian ditahun 1524 melarikan diri ke Manado Tua (Babontahe) dengan bantuan pedagang Ternate dan orang Babontahe. Setelah itu mereka lari ke Uwuran (Amurang) dan terus ke Pontak suatu desa yang baru saja diperdirikan suku Tompaso” (dari buku Sejarah & Antropologi Budaya Minahasa, H.M.Taulu, h.14). Diwaktu itu tentu menyebutkan Pontak berarti sudah termasuk dengan tempat dimana lesung-lesung itu ada (di Poopo) dan menurut cerita lesung-lesung itu dibuat oleh mereka untuk mengolah batu-batu sungai yang mengandung emas di sepanjang sungai Pangian.
4. Permulaan Injil Masuk di Poopo.
Sesudah puluhan tahun mendiami perkampungan Poopo maka masyarakat bermusyawarah untuk terus menetap ditempat ini dan tidak berpindah serta mengusulkan pemerintahan sendiri terpisah dari Pontak. Karena penduduk masih kurang sehingga belum memenuhi syarat maka yang diangkat adalah Tonaas untuk memimpin. Di tahun 1750 diangkatlah Tonaas pertama Manese Menajang anak dari Menajang – Reget, yang beristrikan Ungis Kawatu. Selama melaksanakan kepemimpinannya, Manese sangat dibantu/ditopang oleh istrinya dan selama itu pula rakyat/masyarakat merasa senang serta tidak pernah mendapat gangguan dari luar.
Pada tahun 1800 karena usia tua Tonaas Manese Menajang diganti oleh anaknya Mincelungan Menajang. Tonaas Mincelungan sangat berwibawa dan tegas dalam segala tindakannya, ia dibantu istrinya Nona Masinambow yang ramah dan penggemar kesenian (masambo dan maengket). Di jamannya Injil yang sudah pernah ada di tanah Minahasa (1563-Portugis/katolik; 1663/VOC ) mulai menyebar dirintis Hellendorn (1827/NZG) kemudian datang utusan NZG berikut yang berhasil menanamkan injil disebagian wilayah Minahasa yaitu Johan Fredrik Riedel dan Johanis Gotlieb Schwarz yang tiba di Manado 12 Juni 1831 (tanggal ini kemudian ditetapkan menjadi Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen GMIM). Sedangkan di daerah selatan Minahasa dimulai oleh Karl T.Herrmann yang tiba di Amurang tahun 1836 dan rajin mengunjungi Kumelembuai dan sekitarnya selama kurun waktu 10 tahun.
Tanggal 15 Juli 1849 Siebold Ulfers menerima tugas pelayanan di Kumelembuai menggantikan K.T.Herrmann,. Beliau langsung bekerja menanamkan Injil, diantaranya dua hari kemudian menyampaikan berita ke Pontak dan sekitarnya termasuk di perkampungan Poopo bahwa pada tanggal 17 Juli 1849 di Pontak akan dilaksanakan penginjilan. Berita ini cepat tersebar dan sangat diperhatikan mengingat dikirim melalui jalur pemerintah yang dikuasai penjajah. Tonaas Mincelungan Menajang yang merasa bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi di masyarakat termasuk urusan keagamaan kemudian berunding dengan tua-tua kampung untuk membicarakan berita ini. Mereka mengambil keputusan untuk mengirim 3 orang pemuda cakap, bijaksana dan gagah berani sebagai utusan mewakili masyarakat Poopo, yaitu :
· FREDERIK MENAJANG anak dari Mincelungan Menajang yang mempunyai peran sebagai kepala dari pemuda-pemuda untuk menjaga keamanan kampung.
· TANDUNDI KAWATU yang berperan dan memperhatikan bidang pendidikan.
· KINAMANG PURUKAN yang banyak membantu di bidang keagamaan.
Pada 17 Juli 1849 pagi-pagi benar diadakan upacara/ritual pelepasan. Ketiganya mengadakan pengakuan untuk taat, patuh, dan dengar-dengaran pada nasihat/ajaran orang tua-tua dan instruksi pemerintah. Ritual dan ajaran itu antara lain :
· Berjalan satu persatu sambil membungkuk di bawah dua daun tawaang yang disilangkan oleh dua orang tua pemimpin adat yang melambangkan bahwa tidak ada ajaran baru atau peristiwa yang dapat mempengaruhi sehingga meninggalkan adat istiadat.
· Kalau sudah berjalan tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan ataupun ke belakang apalagi berbalik pulang mengambil sesuatu yang terlupa, ini akan mendatangkan sial dalam perjalanan.
· Sementara berjalan lalu mendengar orang bersin, itu tandanya mujur, teruslah berjalan Tapi sebelum berjalan lalu mendengar orang bersin, jangan berani berjalan sebab itu tanda membawa sial.
· Sementara berjalan lalu mendengar burung wala (hantu) dari belakang berarti mujur tetapi kalau dari muka, itu berarti sial lebih baik berhenti sambil makan sirih sementara menunggu waktu yang baik untuk meneruskan perjalanan.
· Jikalau melihat ular menyeberang jalan, kalau menurun berarti sial, kalau mendaki berarti mujur dan paling mujur kalau dapat memotong ekor ular yang sedang mendaki lalu dibungkus dan dibawa serta.
Sesampai di Pontak, mereka menumpang di rumah Hukumtua sambil menunggu acara dimulai. Jam 09.00 pada hari itu dimulailah penginjilan oleh Siebold Ulfers, seorang Jerman yang menjadi pendeta Belanda karena diutus lembaga penginjilan Belanda yang bernama NZG (Nederlandse Zendeling Genootschap) dihadiri masyarakat Pontak dan desa/perkampungan disekitarnya. Sesudah mendengar Injil yang menyentuh hati maka banyak diantara pendengar minta diri dibaptis termasuk tiga pemuda dari Poopo. Sesudah dibaptis, ketiga pemuda ini kembali ke Poopo dan menyampaikan semua yang terjadi terhadap diri mereka dan mengusulkan supaya mereka diizinkan untuk mempelajari terus Injil Yesus Kristus. Usul mereka diterima dan untuk beberapa waktu lamanya mereka menjadi murid-murid Siebold Ulfers di Kumelembuai. Mereka bukan saja mempelajari Injil tetapi juga ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kemajuan ekonomi (pertanian/pertukangan) antara lain cara membuat petak sawah dan pembuatan roda sapiserta kebudayaan dan pemerintahan dari bangsa yang sudah lebih dulu maju beradabannya. Hasil pembelajaran di Kumelembuai dibawa pulang menjadi kemajuan dan perkembangan di perkampungan Poopo sekaligus ketiga pemuda ini menjadi cikal bakal penginjilan di tempat ini melalui peran mereka di masyarakat.
Enam tahun kemudian tepatnya di tahun 1855 Siebold Ulfers mendirikan resort/klasis Kumelembuai dengan pusat pelayanan di Kumelembuai.
- Pembangunan Gereja Pertama.
Tonaas Mincelungan Menajang yang merasa sudah tua dan kondisi badan yang sudah lemah sesudah mengadakan musyawarah dengan masyarakat menyerahkan urusan pemerintahan kepada menantunya Tandundi Kawatu yang beristrikan Puteri Menajang di tahun 1850 dengan gelar “Paukung”. Selama menjalankan jabatan pemerintahan dari tahun 1850 sampai 1875, ia telah bekerja keras dan telah membawa banyak kemajuan bagi masyarakat Poopo.
Sebagai orang Kristen pertama di Poopo, ia berusaha mengajak dan memimpin masyarakat yang mulai percaya Injil untuk membangun gedung gereja sederhana. Gereja kemudian dibangun di atas tanah milik dotu Tololiu (keturunannya adalah: Zackeus Kawatu bersaudara; Ampe’ Wakas bersaudara; Lole Sem Talumepa bersaudara; Jan Talumewo bersaudara; Dri Ronga bersaudara; Ci’ Talumepa bersaudara) sekarang menjadi halaman keluarga Lasabuda Ronga (depan pekuburan keluarga Menajang Lumenta Eduard). Dengan bergotong royong dalam waktu singkat gedung gereja telah berdiri dimana lantai dan dindingnya dari nibong dan atap dari daun pohon hutan atau kaleces.
- Peresmian Desa dan Jemaat Pertama.
Di tahun 1875 sesudah Paukung Tandundi Kawatu meninggal berkumpullah tua-tua kampung untuk memilih 2 orang yang cakap, yaitu Frederik Menajang dan Kinamang Purukan menjadi utusan memperjuangkan cita-cita masyarakat akan desa yang berdiri sendiri kepada pemerintah atasan. Karena mereka berdua telah mendapat pendidikan dan telah terbiasa bergaul dengan pihak atasan akhirnya berhasil meyakinkan pihak atasan sehingga ditahun itu pula desa Poopo diresmikan dan dipilihlah Frederik Menajang (lahir 1829, meninggal 1895) yang beristrikan Bertha Wawo sebagai Hukumtua Pertama (setelah meninggal keduanya dikuburkan di halaman sendiri yang sudah menjadi halaman gereja sekarang).
Demikian halnya dengan perjalanan Injil selang 25 tahun di Poopo telah menghasilkan pertumbuhan keanggotaan dimana semakin banyak orang yang percaya Injil sehingga perkumpulan orang percaya ini sangat perlu ditata atau diatur sebagai sebuah organisasi. Maka seiring dengan peresmian desa (1875), diresmikan pula Jemaat Kristen di Poopo dan memilih Kinamang Purukan sebagai Guru Jemaat/Ketua Jemaat Pertama dibantu beberapa orang sebagai Majelis Jemaat.
Kedua pemimpin desa dan jemaat yang mendapat pendidikan yang sama, juga memiliki keyakinan yang sama sanggup bekerja sama sehingga terjadilah banyak perubahan dan kemajuan dalam hidup kemasyarakatan. Namun demikian hal paling sulit adalah menghilangkan kepercayaan dan ajaran nenek moyang yang telah mereka akui dibawah dua daun tawang sebelum dibaptis namun bertentangan dengan keyakinan iman orang Kristen yang mereka anut. Dalam keadaan demikian mereka menyadari bahwa mereka ditugaskan TUHAN untuk memulaikan suatu pekerjaan.Untuk meneruskan dan menyempurnakan pekerejaan, mereka berharap dan berdoa anak-cucunya akan dapat mengambil bagian dalam pekerjaan ini. Karena itu selama hidup, mereka selalu menceritakan dan mengajarkan tentang TUHAN ALLAH, tentang SIAPA YESUS kepada keturunan mereka.
Geografis
Letak dan Luas Wilayah
Desa Poopo merupakan salah satu dari12 Desa di kecamatan Ranoyapo yang terletak 1km ke arah Barat dari Kota Kecamatan.
Desa Poopo mempunyai luas wilayah 1.189 Hektar
Iklim
Iklim Desa Poopo sebagaimana desa-desa lain diwilayah Indonesia, mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di desa Poopo kec. Ranoyapo
Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk.
Jumlah Penduduk
Desa Poopo mempunyai jalan penduduk 1.174 Jiwa yang tersebar dalam 6 jaga dengan perincian sebagaimana tabel:
Tabel-1 : Jumlah Penduduk
| Jaga I | Jaga II | Jaga III | Jaga IV | Jaga V | JagaVI |
| 57 KK | 54 KK | 52 KK | 45 KK | 43 KK | 52 KK |
Mata Pencaharian
Karena desa Poopo merupakan desa pertanian, maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani, selengkapnya sbb:
Tabel. 3 Mata Pencaharian
| Petani | Pedagang | PNS | Buruh |
| 80 % | 4 % | 10 % | 6 % |
Pola Penggunaan Tanah
Penggunaan tanah didesa Poopo sebagian besar diperuntukan untuk tanah pertanian sawah sedangkan sisanya untuk tanah kering yang merupakan bangunan dan fasilitas-fasilitas lainnya.
Pemilikan Ternak
Jumlah kepemilikan hewan ternak oleh penduduk desa Poopo adalah sebagai berikut:
Tabel -4 Kepemilikan Ternak
| Ayam/Itik | Babi | Sapi | Kerbau | Lain-Lain |
| 1.580 | 600 | 60 | - |
Sarana dan Prasarana Desa
Kondisi sarana dan prasarana umum desa Poopo secara garis besar adalah sebagai berikut:
| Balai Desa | Jalan Kab | Jalan Kec | Jalan Desa | Sekolah | Gereja |
| 1 | 1 | 1 | 8 | 2 | 3 |
Desa Poopo menganut sistim kelembagaan pemerintahan desa dengan pola minimal
Visi
Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan melihat potensi dan kebutuhan desa. Penyusunan Visi Desa Poopo ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan di Desa Poopo seperti Pemerintah Desa, BPD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Lembaga Masyarakat Desa dan masyarakat desa pada umumnya. Pertimbangan kondisi eksternal di desa seperti satuan kerja wilayah pembangunan di kecamatan. Maka berdasar pertimbangan di atas Visi Desa Poopo adalah :
“ MASYARAKAT ADIL MAKMUR SEJAHTERA MELALUI PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA, PERTANIAN YANG MAJU, AMAN, DAN MANDIRI.”
Misi
Selain penyusunan visi juga telah ditetapkan misi-misi yang memuat sesuatu pernyataan yang harus dilaksanakan oleh desa agar tercapainya visi desa tersebut.Visi berada di atas Misi. Pernyataan visi kemudian dijabarkan ke dalam misi agar dapat dioperasionalkan/dikerjakan. Sebagaimana penyusunan visi, misipun dalam penyusunannya menggunakan pendekatan partisipatif dan pertimbanagan potensi dan kebutuhan Desa Poopo, sebagaimana proses yang dilakukan maka misi Desa Poopo adalah :
1. Meningkatkan sarana dan prasarana pertanian
2. Pengembangan agribisnis berbasis kelompok
3. Meningkatkan kwalitas sumber daya manusia
4. Meningkatkan kualitas pendidikan
5. Pengembangan ekonomi masyarakat
“Daftar Nama Hukumtua Desa Poopo”
| No | Tahun | N a m a | Keterangan |
| 1 | 1750 - 1800 | Manese Menajang | Tonaas |
| 2 | 1800 - 1850 | Mintjelungan Menajang | Tonaas |
| 3 | 1850 - 1875 | Tandundi Kawatu | Paukung |
| 4 | 1875 - 1892 | Frederik Menajang | Hukumtua |
| 5 | 1892 - 1903 | Karel Assa | Pjb.Hukumtua |
| 6 | 1903 - 1908 | Abedneju Menajang | Hukumtua |
| 7 | 1908 - 1910 | Lambertus Talumepa | Pjb.Hukumtua |
| 8 | 1910 - 1934 | Abedneju Menajang | Hukumtua |
| 9 | 1934 - 1936 | Eduard Menajang | Pjb.Hukumtua |
| 10 | 1936 - 1945 | Ernest Talumepa | Hukumtua |
| 11 | 1945 - 1947 | Erik Londa | Pjb.Hukumtua |
| 12 | 1947 - 1953 | Bern Menajang | Hukumtua |
| 13 | 1953 | Pieter Kawatu | Pjb.Hukumtua |
| 14 | 1953 - 1960 | Gradus Mamarimbing | Hukumtua |
| 15 | 1960 - 1962 | Bern Menajang | Hukumtua |
| 16 | 1962 - 1965 | Paulus M.Assa | Hukumtua |
| 17 | 1965 - 1967 | Nico Sengkey | Pjb.Hukumtua |
| 18 | 1967 - 1971 | Jantje H.Menajang | Hukumtua |
| 19 | 1971 -1977 | W.E.T.’Ampe’ Purukan | Hukumtua |
| 20 | 1977 - 1981 | Hans A.Werung | Pjb.Hukumtua |
| 21 | 1981 - 1988 | J.A.Yo’ Assa | Hukumtua |
| 22 | 1988 - 1995 | Hans A. Werung | Hukumtua |
| 23 | 1995 - 2002 | A.F.’Bert’ Menajang | Pjb.Hukumtua |
| 24 | 2002 -2007 | Kawatu Talumewo | Hukumtua |
| 25 | 2008-2014 | Meidy K. Tololiu | Hukum Tua |
saya mau tanya, apa ada silsilah keluarga dari Menajang? apakah marga manayang dan menajang sam?
BalasHapusyth admin,
BalasHapusdari data Register Pembaptisan Siebold Ulfers tgl 17 Juli 1849, bukan hanya 3 orang dari Poopo yg dibaptis &
KINAMANG PURUKAN tidak dibaptis di Pontak, tetapi di Kumelembuai pada thn 1851.
makase....
Meidy Tololiu hukum tua thn2007sampai 2013
BalasHapusTINIAN for sale | TitaniumArt
BalasHapusTINIAN is mens titanium earrings an American paint maker. Originally a titanium blue paintball maker in ridge titanium wallet the 1940s and then iron titanium token later a maker of paintball titanium bracelet chips, made in Portland and